Filsafat Umum: Analisis Konsep
Handout Filsafat Umum
Pengajar: Zainal Fikri
—————–*****—————-
MENGANALISIS KONSEP
“I would prefer to introduce myself as doing conceptual engineering. For just as the engineer studies the structure of material things, so the philosopher studies the structure of thought. Understanding the structure involves seeing how parts function and how they interconnect (Blackburn 2003 :1).”
Analisis
Analisis adalah proses mengurai konsep ke dalam bagian-bagian yang lebih sederhana, sedemikian rupa sehingga struktur logisnya menjadi jelas. Analisis filosofis merupakan metode untuk menguji, menilai, dan memahami sistem pemikiran yang kompleks dengan memecahnya ke dalam unsur-unsur yang lebih sederhana sehingga hubungan antar unsur-unsur itu menjadi jelas. Metode ini mempunyai sejarah yang panjang. Pada tahun 1930-an kaum positivis (logical positivists) mengembangkan metode analisis logis dalam konteks anti-metafisika. Setelah tahun 1945 para filosof mengembangkan analisis untuk memahami bahasa dan pemikiran. Mereka mengembangkan konsepsi ‘analisis linguistik’ yang lebih lues. Perhatian utama mereka adalah analisis bahasa dan makna ( Baldwin 2000: 29).
Konsep yang bisa dianalisis atau didefinisikan adalah konsep yang kompleks, seperti kata “kuda.” Kuda disebut kompleks karena terdiri dari beberapa unsur properties, misalnya, kepala, badan, kaki dan lain-lain serta unsur sifat, misalnya, meringkik. Kalau konsepnya sederhana, maka tidak bisa diurai ke dalam bagian-bagian atau unsur-unsurnya. Tentang konsep yang dianalisis harus kompleks supaya bisa didefinisikan, G. E. Moore (1903/1968:6-7) menyatakan:
“A definition does indeed often mean the expressing of one word’s meaning in other words…Let us, then, consider this position. My point is that ‘good’ is a simple notion, just as ‘yellow’ is a simple notion; that, just as you cannot, by any manner of means, explain to any one who does not already know it, what yellow is, so you cannot explain what good is. Definitions of the kind that I was asking for, definitions which describe the real nature of the object or notion denoted by a word, and which do not merely tell us what the word is used to mean, are only possible when the object or notion in question is something complex. You can give a definition of a horse, because a horse has many different properties and qualities, all of which you can enumerate. But when you have enumerated them all, when you have reduced a horse to his simplest terms, then you can no longer define these terms. They are simply something which you think of or perceive, and to any one who cannot think of or perceive them, you can never, by any definition, make their nature known.”
Ketika kita menganalisis suatu konsep atau kata yang kita lakukan adalah: (1) menguraikan unsur-unsurnya; dan (2) melihat hubungan unsur-unsur itu. Apa hubungan analisis dan definisi? Ketika melakukan analisis kita juga membuat definisi. Analisis adalah satu cara membuat definisi yang menuntut pemikiran filosofis. Cara lain membuat definisi adalah dengan melihat kamus atau definisi leksikal. Kita bisa juga membuat definisi dengan cara menunjuk, memperlihatkan atau mendemonstrasikan sesuatu yang kita definisikan—dengan menunjuk pakai telunjuk ke objeknya, misalnya—disebut definisi ostensif. Kemudian ada definisi dalam penggunaan atau dapat menggunakan kata dalam bahasa yang benar. Selanjutnya, ada definisi dengan paradigma. Analisis dan definisi adalah satu keluarga. Keluarganya yang laian adalah: “Definition and analysis are, however, closely related, in a family whose other members include explication, description, classification, and what philosophers loosely call ‘making sense’ and ‘giving an account’. It might be that these last two convey the inclusive notion, with the others as different members (Grayling 1997: 174-175).” Yang dimaksud dengan eksplikasi konsep adalah proses menjelaskan konsep tanpa memberikan definisi eksplisit, misalnya hanya menggambarkan fungsinya atau meletakkannya dalam peta intelektual.
Bersamaan dengan berargument dan menganalisis, aktivitas filsafat lainnya adalah: konstruksi teori, assembling reminders, persuasi, taxonomisasi, kritisisme.
Referensi:
Baldwin, Thomas. 2000. “Analytical philosophy,” dalam Concise Routledge Encyclopedia of Philosophy. London: Routledge.
Grayling, A. C. 1997. An Introduction to Philosophical Logic. Edisi ke-3. Oxford: Blackwell.
Thanks buat bahasan analisisnya, detail banget. Saya hunting ke beberapa web ternyata yang nyangkut banget ternyata ada di sini.
Vishal
February 10, 2008
thanks banget buat penjelasan singkatnya. jadi semakin mengerti mengenai apa yang dimaksud dengan analisis.
Anonymous
February 29, 2008
Kereen..Ak jd tambah tau konsep n filosofisnx “analisis” jd tmbah pede nih bt ngangkat “analisis” k,skripsi.ThankS bgeET..
I_ndra
March 8, 2008