Perda Syariat
Cerita Ramadan Siti Nurhaliza
| Selasa, 18-09-2007 01:09:48 | |
|
“Yang saya layani hanya pembeli non muslim, saya hanya menjual kalau yang saya layani adalah pembeli non muslim. Jadi tidak melanggar aturan” katanya saat ditanya seorang anggota Sat Pol PP, Senin (17/9).
B-Post, Senin, 17-09-2007 02:20:58
Walikota Palangka Raya Tuah Pahoe, menegaskan memang tidak ada larangan bagi warga membuka warung di siang hari, tapi jangan sampai menggangu umat Islam menjalankan ibadah puasa. Artinya nampak terbuka maupun terlihat masyarakat umum keberadaannya.
“Jangan membuka warung secara vulgar karena bisa mempengaruhi umat Islam yang sedang menjalani ibadah puasa,” tegas pejabat yang beragama Nasrani ini.
——————Saya kira, kita semua sepakat untuk menghormati orang-orang yang berpuasa. Namun, apakah mereka yang berpuasa ingin dihormati secara berlebihan? Saya pribadi sebagai seorang muslim yang sedang berpuasa tidak ingin dihormati berlebihan, tidak tahu yang lain. Bagi saya, pemilik warung yang buka di siang hari dengan tidak vulgar –hidangan dan orang yang makan di dalam tidak kelihatan dari luar– sudah memenuhi syarat makna menghormati. Mereka tetap buka warung, tetap berusaha menghormati orang yang berpuasa. Pemilik warung tetap bisa buka dan tidak dirugikan, orang yang puasa juga tetap dihormati walau tidak berlebihan.(Fikri: Kritik thd Perda Ramadhan———————————–
| | Banjarmasin Post Online | | - Depdagri Anulir Perda Ramadhan
“Di Indonesia, bukan cuma HST yang kandas dalam proses mendapat restu untuk menerapkan perda tersebut. Kabupaten Bulukumba di Sulawesi Selatan dan Kabupaten Solok di Sumatera Barat juga mengalami nasib sama”
—————————
DAN RASULULLAH PUN MINUM DI DEPAN ORANG PUASA
Oleh Ust. Zainal Fikri
Dalam Bab Puasa bagi musafir, Kitab Shahih Bukhari: Dari Ibn Abbas r.a. berkata: Rasulullah s.a.w.keluar dari Madinah menuju Mekah, beliau puasa, ketika tiba di suatu tempat bernama ‘Usfan, kemudian beliau minta air dan diangkatnya tinggi-tinggi untuk diperlihatkan kepada banyak orang, lalu ia berbuka (membatalkan puasa) sampai beliau tiba di Mekah. Dan itu di bulan Ramadhan. Ibn Abbas berkata: sebelumnya Rasulullah s.a.w. berpuasa lalu membatalkan puasanya, barang siap yang ingin berpuasa silahkah puasa dan barang siapa yang ingin membatalkan puasa juga silahkan.
Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah r.a.: Bahwa Rasulullah saw pada tahun penaklukan Mekkah pergi bersama rombongan ke Mekkah pada bulan Ramadhan, beliau berpuasa sampai tiba di tempat bernama Kura’ al-Ghamim, rombongan yang bersama beliau juga berpuasa, kemudian Rasulullah minta tempat minum dan mengangkatnya tinggi-tinggi, sehingga semua orang melihat kepadanya, kemudian beliau minum. Beliau ditanya: sebagian orang tetap puasa. Rasul bersabda: mereka yang musafir dan berpuasa adalah tidak taat padaku. Apa kira-kira pesan dalam riwayat ini? Bahwa orang musafir yang tidak puasa adalah orang yang taat kepada ajaran Rasulullah.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a.: Kami melakukan perjalanan bersama Nabi saw dan orang-orang yang berpuasa tidak mengkritik mereka yang tidak berpuasa demikian juga sebaliknya. (Imam Az-Zabidi. Mukhtasar Shahih Bukhari. Terj. Cecep Syamsul Hari dan Tholib Anis. Bandung: Mizan, 1997: h.373)
Ummu ‘Imaroh Al-Anshoriah r.a. berkata: Nabi s.a.w. datang ke rumahnya, maka dihidangkan kepadanya makanan. Nabi berkata: Makanlah kau. Jawab Um Imaroh: Saya sedang puasa. Maka sabda Nabi s.a.w.: Sesungguhnya seorang yang puasa, tetap dido’akan oleh para Malaikat jika ada orang makan di tempatnya hingga selesai makan atau kenyang orang-orang itu (HR. Attirmidzy).
Kalau seandainya Nabi Muhammmad Rasulullah saw masih hidup di masa sekarang, mungkin beliau adalah salah seorang yang akan ditangkap oleh Satpol PP karena melanggar Perda Ramadhan yang berbunyi: “Dilarang makan, minum dan atau merokok di tempat-tempat umum dari masa imsyak sampai dengan berbuka puasa.“
Apa yang dilakukan oleh Rasulullah dalam riwayat itu sangat bertentangan sekali dengan pasal-pasal dalam Perda Ramadhan. Tapi, untunglah beliau tidak hidup di masa sekarang di era otonomi daerah. Namun, umat Islam pengikut beliaulah yang akan ditangkap oleh Satpol PP, jika mereka mencontoh apa yang dilakukan oleh Rasulullah itu: minum di depan orang yang sedang puasa di tengah jalan lagi sehingga dilihat oleh orang banyak. Tindakan itu tidak meghormati orang yang lagi puasa. Tindakan itu telah menggoda orang yang berpuasa untuk membatalkan puasanya. Tindakan itu telah mengganggu orang yang sedang puasa. Tindakan itu telah menodai kesucian bulan Ramadhan.
Apa yang dilakukan oleh Rasulullah itu bertentangan dengan pasal-pasal dalam Perda Ramadhan. Oleh karena itu pengikut setia beliau pada zaman sekarang yang bertindak seperti yang dilakukan beliau adalah ketinggalan zaman. Pada zaman modern sekarang ini tindakan itu dianggap tidak menghormati warga Negara yang sedang puasa seperti yang disebut dalam Perda.
Perda itu dirancang oleh orang-orang yang terhormat dan beradab di DPRD dan Pemda atau Pemko: mereka sangat paham etika berbangsa dan bernegara. Warga negara harus menghormati orang yang sedang puasa, menahan haus lapar dan dahaga. Menurut mereka, makan dan minum di depan orang yang sedang haus dan dahaga adalah perbuatan yang tidak terhormat. Negara (Pemerintah) memandang perlu untuk menghukum orang-orang yang tidak menghormati orang yang sedang melaksanakan puasa. Mereka menilai orang yang puasa itu lebih mulia daripada orang yang tidak puasa. Oleh karena itu mereka layak untuk dihormati. Di sini pemerintah tampil sebagai penilai kualitas rohaniah seseorang. Di sini pemerintah juga tampil sebagai penjaga etika: hormatilah!
Pemerintah tidak memandang kebutuhan orang-orang yang tidak puasa untuk makan dan minum sebagai sesuatu yang perlu. Jika mereka musafir, biarkan saja mereka kelaparan. Jika mereka adalah wanita hamil, biarkan ia dan anak dalam kandungannya kelaparan. Jika mereka adalah buruh kasar membanting tulang seharian, biarkan mereka haus kelaparan. Oleh karena itu Pemerintah memandang perlu untuk menutup semua warung. Mereka tidak peduli Anda membanting tulang untuk menafkahi keluarga, bercucuran keringan, kehausan, kelaparan. Warung pun ditutupnya, apalagi memberi duit. Jauh panggang dari api. Jika Anda protes, paling jawabnya: salah sendiri kenapa tidak menabung jauh-jauh hari sebelum bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan kan buat beribadah kepada Allah. Mencari nafkah itu kan urusan duniawi. Membuka warung itu menodai kesucian bulan Ramadhan. Di sini pemerintah tampil sebagai penjaga kesucian agama.
Rasulullah menyatakan bahwa orang-orang musafir, sakit, wanita hamil, wanita menyusui, orang tua uzur jika mereka tidak puasa maka mereka adalah juga taat kepada beliau. Mereka juga orang yang taat beragama. Tapi, walaupun Rasul menyatakan demikian, Pemerintah tetap melarang Anda membuka warung walaupun hanya untuk melayani orang-orang yang taat kepada Rasulullah. Pemerintah tidak peduli dengan ajaran Rasulullah karena negara ini adalah negara sekuler bukan negara agama. Bagi pemerintah, melayani orang-orang yang taat beragama kalau melanggar ketertiban umum akan tetap dihukum. Dalam bahasa aliran positivisme hukum: hukum yang dibuat manusia harus tetap ditaati walaupun bertentangan dengan hukum Tuhan sekalipun. Apalagi hanya bertentangan dengan ajaran Rasul. Rasul kan kedudukannya masih di bawah Tuhan. Di sini pemerintah tampil sebagai orang yang sekuler, tidak peduli pada ajaran agama.
Pemerintah memang punya banyak wajah yang paradoks: penjaga etika, penjaga kesucian agama; tapi juga, kapitalis dan sekuler, lalu gagal mendamaikan keduanya. Para perumus Perda Syariat telah gagal mengintegrasikan syariat ke dalam hukum positif. Tidak selamanya syariat dapat diterapkan oleh Negara dengan cara diformalisasi pakai model hukum positif ala Barat: larangan dan sanksi pidana.
Glossary:
Satpol PP: Civil Police acting as Religious Police
Perda Syariat: popular name for Shariah by-law in Indonesia
larangan dan sanksi pidana: command and sanction (Austin’s concept of law)
——————————————-
Malaysia Today - Guest Columnists » Archive
Lebih terperanjat bila menatap catatan di laman “Zainal Fikri blogspot.com” yang menceritakan perilaku Rasul tidak berpuasa sambil meneguk air di khalayak ramai….(biar betul-betul saudara Ustaz Zainal, ini bulan Ramadhan). Untuk apa rencana tersebut disiarkan, begitu juga dengan catatan saudara Zahir di laman Internet menceritakan persoalan yang sama, (nak puasa berpuasalah kamu, kalau tidak mahu fikirlah sendiri… Tiada paksaan dan Islam. Usahlah diselewengkan minda umat Islam yang semakin kacau-bilau sejak kehadiran mazhab baru Islam Hadhari.(KAMAL AMIR, 15/09/07)
———————————*****—————————-
36 - كتاب الصوم.
37 - باب: من أفطر في السفر ليراه الناس.
وجدت الكلمات في الحديث رق
1846 - حدثنا موسى بن إسماعيل: حدثنا أبو عوانة، عن منصور، عن مجاهد، عن طاوس، عن ابن عباس رضي الله عنهما قال:
خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم من المدينة إلى مكة، فصام حتى بلغ عسفان، ثم دعا بماء، فرفعه إلى يديه ليريه الناس، فأفطر حتى قدم مكة، وذلك في رمضان. فكان ابن عباس يقول: قد صام رسول الله صلى الله عليه وسلم وأفطر، فمن شاء صام ومن شاء أفطر.
[ر:1842]
[ش (فرفعه إلى يديه) أي رفعه أقصى ما يمكن أن تمتد يداه حتى يعلو ويظهر للناس].
Dari Ibn Abbas r.a. berkata: Rasulullah s.a.w.keluar dari Madinah menuju Mekah, beliau puasa sampai tiba di suatu tempat bernama ….., kemudiam beliau minta air dan diangkatnya tinggi-tinggi untuk memperlihatkan kepada banyak orang, lalu ia berbuka (membatalkan puasa) sampai beliau tiba di Mekah. Dan itu di bulan Ramadhan. Ibn Abbas berkata: sebelumnya Rasulullah s.a.w. berpuasa lalu membatalkan puasanya, barang siap yang ingin berpuasa silahkah puasa dan barang siapa yang ingin membatalkan puasa juga silahkan.
Dalam Shahih Muslim:
حَدَّثنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ -يَعْنِي: ابْنَ عَبْدِ الْمَجِيدِ- حَدَّثَنَا جَعْفَرٌ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا-:
أَنَّ رَسُولَ اللهِ -صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- خَرَجَ عَامَ الْفَتْحِ إِلَىَ مَكَّةَ فِي رَمَضَانَ، فَصَامَ حَتَّىَ بَلَغَ كُرَاعَ الْغَمِيْمِ، فَصَامَ النَّاسُ، ثُمَّ دَعَا بِقَدَحٍ مِنْ مَاءٍ فَرَفَعَهُ، حَتَّىَ نَظَرَ النَّاسُ إِلَيْهِ، ثُمَّ شَرِبَ، فَقِيلَ لَهُ بَعْدَ ذَلِكَ: إِنَّ بَعْضَ النَّاسِ قَدْ صَامَ.
فَقَالَ: “أُولَئِكَ الْعُصَاةُ، أُولَئِكَ الْعُصَاةُ“.
Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah r.a.: Bahwa Rasulullah saw pada tahun penaklukan Mekkah pergi bersama rombongan ke Mekkah pada bulan Ramadhan, beliau berpuasa sampai tiba di tempat bernama Kura’ al-Ghamim, rombongan yang bersama beliau juga berpuasa, kemudian Rasulullah minta tempat minum dan mengangkatnya tinggi-tinggi, sehingga semua orang melihat kepadanya, kemudian beliau minum. Beliau ditanya: sebagian orang tetap puasa. Rasul bersabda: mereka yang musafir dan berpuasa adalah tidak taat padaku.
Ummu ‘Imaroh Al-Anshoriah r.a. berkata: Nabi s.a.w. datang ke rumahnya, maka dihidangkan kepadanya makanan. Nabi berkata: Makanlah kau. Jawab Um Imaroh: Saya sedang puasa. Maka sabda Nabi s.a.w.: Sesungguhnya seorang yang puasa, tetap dido’akan oleh para Malaikat jika ada orang makan di tempatnya hingga selesai makan atau kenyang orang-orang itu (HR. Attirmidzy).
———————-*****—————-
Perda Syariat: